Home / Berita / Kegiatan Webinar Kerjasama FKIP UNEJ dengan Cabdindik Prov. Jawa Timur Wilayah Situbondo dan Bondowoso “Pengembangan Pembelajaran Berbasis Daring Dimasa Pandemi Covid-19”

Kegiatan Webinar Kerjasama FKIP UNEJ dengan Cabdindik Prov. Jawa Timur Wilayah Situbondo dan Bondowoso “Pengembangan Pembelajaran Berbasis Daring Dimasa Pandemi Covid-19”

Pembelajaran daring memerlukan banyak hal yang dipersiapkan karena latar belakang pembelajaran daring harus terus dikembangkan mengingat pandemic covid-19 belum masuk pada zona hijau. Bapak kepala cabang dinas pendidikan jawa timur wilayah situbondo dan bondowoso mengharapkan kepada bapak ibu guru serta kepala sekolah agar senantiasa mengembangkan ilmunya dengan mengikuti kegiatan seminar online. Sehingga berdampak pada kesiapan dalam penyediaan bahan aja pendidikan. Pembelajaran daring membutuhkan teknologi yang mumpuni sehingga dalam pelaksanaannya dapat diakses dengan baik. Namun hal ini terdapat beberapa kendala dalam proses pelaksanaannya dikarenakan tidak semua lini pendidikan maupun peserta didik dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Namun berdasarkan peraturan pemerintah dapat memanfaatkan dana BOS. Dana BOS tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan untuk tetap terlaksananya kegiatan belajar mengajar secara daring. Pada akhirnya diharapkan kita semua dapat melakukan proses belajar mengajar dapat memanfaatkan teknologi.

Dalam kaitannya dengan pembelajaran daring, mau tidak mau kita harus menuju pembelajaran berbasis teknologi. Pendididikan tidak semata-mata peran guru, tetapi juga orang tua. Untuk membangun itu semua tidak mudah, oleh karena itu perlu pemahaman yang baik akan hal pendidikan. Kemerdekaan belajar tentu terkait erat dengan bagaimana standar proses, isi dan kelulusan menjadi prioritas yang utama. Inovasi yang kami kembangkan adalah sesuai dengan daerah masing-masing. Itulan yang menjadi pemicu untuk kemerdekaan belajar. Bapak Ibu guru perlu berinovasi untuk mengembangkan pembelajaran. Guru Kunjung sudah di kembangkan di luar jawa, menitipkan pekerjaan bagi mereka yang sama sekali tidak terjangkau, ada siaran TVRI, Rumah Belajar. Ini semua dikembangkan sebagai bentuk inovasi pembelajaran. Sarana teknologi kita gunakan dan kita memerlukan strategi untuk mengelola itu. Kata Kuncinya adalah peran guru tidak bisa digantikan oleh teknologi. Guru penggerak adalah guru yang memberikan model terbaik untuk siswa-siswanya. Guru tersebut harus mampu berinovasi, berkolaborasi dengan pihak internal dan eksternal. memiliki kematangan moral dan spiritual. Semua itu berpusat pada siswa dan melibatkan orang tua. Kolaborasi dengan orang tua digunakan untuk menumbuhkan kepemimpinan siswa. Kunci utama suksesnya guru penggerak adalah pada sekolah dan guru tersebut. Apa yang menjadi visi dan misi sekolah. Sebagai guru penggerak harus memahami Filsafat tokoh Pendidikan kita Ki Hajar Dewantara. Hal ini juga berhubungan dengan pembangunan karakter. Pembelajaran Diferensiasi adalah proses atau filosofi untuk pembelajaran efektif yang dilakukan dengan berbagai cara dan beranekaragaman. Siswa mencari cara untuk mendapatkan konten, membangun konten. Dalam teori kita sudah mengenal terkait multiple intelligent yang medeskripsikan bahwa siswa memiliki kecerdasan sendiri, dan tugas kita sebagai guru adalah memfasilitasi belajarnya. Dalam konteks merdeka belajar salah satu layanan yang sudah dilakukan adalah pembelajaran berbasis   SKS.

Problematika apa yang dihadapi guru bisa bermacam-macam dalam menghadapi pembelajaran daring. Contohnya yaitu UASBN dihapus dan diganti dengan asesment seperti protofolio, UN dihapus diganti dengan asesment kompetensi minimum dan survey karakter, RPP dipersingkat; dokumen rencana pelaksanaan pembelajaran dipersingkat dari minimal 15 halaman menjadi 1 halaman, Sistem zonasi lebih fleksible, Pengelolaan dana BOS yang masuk ke rekening sekolah dam pemafaatannya lebih fleksibel. Merdeka belajar sejatinya memberikan aktivitas yang merdeka pada siswa meliputi lingkungan, manajemen, kurikulum, SDM yang merdeka dan waktu belajar yang merdeka. Pertama kali yang perlu diubah adalah mindset seorang guru, jangan sampai guru hanya memakai saja tetapi harus bertransformasi diri menjadi seorang yang mencipta. Jangan hanya menjadi downloader tetapi perlu menjadi uploader, Guru harus menjadi konten kreator untuk pembelajarannya. Jangan hanya memperlihatkan media pembelajaran orang lain, sebisa mungkin gurunyalah yang menjadi model dalam pembelajaran daring yang disampaikan ke siswa. Sebagai guru penggerak; tidak semua hal bisa diajarkan tapi semua hal bisa dipelajari. Berikan siswa jalan untuk mendapatkan materi. Semakin jauh kita masuk ke dunia mereka maka semakin jauh kita dapat mempengaruhi mereka. Salah satunya adalah dengan penggunaan fasilitas teknologi. Guru dan siswa hanya berbeda dalam hal kelompok. Siswa dalam kelompok milenial sedang Guru pada kelompok baby boomers, dampaknya guru memberikan ekspektasi lemah kepada diri siswa. Padahal perkembangan siswa sebegitu cepatnya, maka kita juga harus bisa mengikuti perkembangan teknologi untuk dapat menguasai pemanfaatan media digital.

Keluh kesah terhadap pembelajaran daring sudah waktunya kita carikan solusi. Salah satu solusinya adalah dengan memanfaatkan teknologi dan internet. Kalau terhalang dengan signal di gunung maka kita bisa mencari alternatif untuk tetap belajar misalnya dengan trun gunung atau pilih provider yang jaringan internetnya luas. Guru penggerak harus dibentuk untuk diikutkan dalam pelatihan dan pendampingan intensif. Misalnya sebagai content creator, skills, penguasaan platform aplikasi, penguasaan software aplikasi dan pemanfaatan media sosial channel. Kita harus move on dari pikiran yang menghambat kemajuan kita dalam belajar.

About berkarya

Check Also

Istighotsah dan Do’a Bersama Peduli Gempa/Tsunami Palu dan Donggala

Mahasiswa Berkarya FKIP UNEJ- Keluarga besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember mengadakan kegiatan ...