JEMBER —Awal Januari ini, suasana di lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember tidak seperti biasanya. Bukan karena hiruk-pikuk wisuda atau ramainya mahasiswa baru. Melainkan karena sebuah “maraton sunyi” yang menentukan masa depan akademik: rangkaian ujian S3 Pendidikan Matematika yang digelar tiga hari berturut-turut.
Di ruang-ruang yang tampak sederhana—namun selalu punya aura serius saat ujian doktoral berlangsung—tiga mahasiswa akan menaruh seluruh kerja intelektualnya di atas meja. Bukan sekadar presentasi. Ini adalah momen ketika gagasan diuji, logika ditantang, dan rancangan penelitian “diperas” habis-habisan sampai benar-benar layak menjadi disertasi.
Rangkaian itu dimulai dari Ujian Kelayakan Disertasi, lalu disusul dua Ujian Seminar Proposal Disertasi. Nama-namanya: Anas Ma’ruf Annizar, Syabana Nurin Nadia Aziz, dan Muhamad Badrul Mutammam. Masing-masing membawa tema riset yang berbeda—tetapi sama-sama “tajam” dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Selasa Pagi, 6 Januari 2026: Anas dan Taruhan Besar “Model Problem Solving” untuk SMP

Pembuka agenda ini jatuh pada Selasa, 6 Januari 2026, pukul 09.00–11.00 WIB. Tempatnya di Ruang Dosen Pascasarjana FKIP Gedung 111. Di sanalah Anas Ma’ruf Annizar menjalani Ujian Kelayakan Disertasi—tahap yang sering disebut sebagai “gerbang” utama sebelum seorang doktoral benar-benar melaju dengan riset penuh.
Yang dibawa Anas bukan tema kecil-kecilan. Ia mengusung disertasi berjudul:
“Pengembangan Model Mathematical Problem Solving Cooperative Learning Berdasarkan Theory of Planned Behaviour untuk Meningkatkan Keterampilan Pemecahan Masalah Peserta Didik SMP.”
Kalau diterjemahkan ke bahasa yang lebih “membumi”, Anas sedang menyiapkan formula pembelajaran kooperatif yang bukan hanya membuat siswa bekerja dalam kelompok, tetapi juga mendorong niat, sikap, dan kebiasaan berpikir agar kemampuan pemecahan masalah matematika meningkat. Ia memakai pijakan Theory of Planned Behaviour—teori yang terkenal kuat untuk membaca hubungan antara niat dan tindakan. Dalam konteks SMP, ini bukan sekadar teori. Ini bisa menjadi jawaban atas masalah klasik di kelas: siswa bisa mengerjakan latihan rutin, tetapi sering “buntu” saat berhadapan dengan soal yang menuntut strategi.
Ujian kelayakan Anas juga ditopang tim akademik lengkap—mulai promotor dan co-promotor, hingga jajaran penguji. Artinya, yang dinilai bukan hanya keberanian gagasan, melainkan juga ketahanan metodologi dan kontribusi ilmiahnya.
Tambahan Informasi – Ujian Kelayakan Disertasi – Anas Ma’ruf Annizar
Pembimbing
- Dr. Dian Kurniati, S.Pd., M.Pd — Promotor
- Dr. Erfan Yudianto, S.Pd., M.Pd — Co-promotor I
- Dr. Susanto, M.Pd — Co-promotor II
Penguji
- Dr. Nurcholif Diah Sri Lestari, S.Pd., M.Pd — Penguji I
- Prof. I Made Tirta, M.Sc., Ph.D — Penguji II
- Dr. Abi Suwito, S.Pd., M.Pd — Penguji III

Hari berikutnya, giliran Syabana Nurin Nadia Aziz yang maju. Jadwalnya Rabu, 7 Januari 2026 pukul 09.00–11.00 WIB, bertempat di Ruang 35A 304 Gedung III FKIP Universitas Jember. Status ujinya: Ujian Seminar Proposal Disertasi.
Yang membuat proposal Syabana menarik, bahkan bagi masyarakat awam sekalipun, adalah keberanian temanya: ia menyambungkan dunia pendidikan dengan isu yang sedang naik daun—keamanan siber. Judul yang diajukan:
“Analisis Prototyping Watermarking SKCK dengan Teknik Rainbow Antimagic Coloring pada RBL-STEM untuk Meningkatkan Keterampilan Keamanan Siber Mahasiswa.”
Di titik ini, pembaca mungkin bertanya: SKCK saja bisa dibahas dalam disertasi matematika? Justru di situlah letak “greget”-nya. Syabana mencoba memotret persoalan nyata: dokumen penting, identitas, dan keamanan informasi kini bukan isu pinggiran. Ia membawa pendekatan watermarking—yang intinya memberi “tanda” tertentu agar dokumen lebih aman dan sulit dipalsukan—lalu mengemasnya melalui skema pembelajaran RBL-STEM (research-based learning berbasis STEM). Dengan kata lain, proposal ini tidak berhenti pada teknologi, tetapi juga menjawab pertanyaan pendidikan: bagaimana mahasiswa dilatih agar punya keterampilan keamanan siber yang kuat melalui aktivitas belajar yang terstruktur.
Di ruang ujian, proposal semacam ini biasanya memantik diskusi panas: seberapa kuat landasan matematisnya, bagaimana rancangan prototipe diuji, dan bagaimana ukuran “keterampilan keamanan siber” mahasiswa dibuktikan secara ilmiah.
Tambahan Informasi – Ujian Seminar Proposal Disertasi- Syabana Nurin Nadia Aziz
Pembimbing
- Prof. Drs. Dafik, M.Sc., Ph.D — Pembimbing I
- Dr. Arika Indah Kristiana, S.Si., M.Pd — Pembimbing II
- Dr. Dian Kurniati, S.Pd., M.Pd — Pembimbing III
Penguji
- Dr. Nurcholif Diah Sri Lestari, S.Pd., M.Pd — Penguji I
- Dr. Erfan Yudianto, S.Pd., M.Pd — Penguji II
- Dr. Abi Suwito, S.Pd., M.Pd — Penguji III
Kamis Siang, 8 Januari 2026: Badrul Membongkar “Inhibisi” – Kenapa Ada yang Cepat Tapi Keliru, Ada yang Pelan Tapi Tepat

Rangkaian maraton ditutup pada Kamis, 8 Januari 2026 pukul 13.00–15.00 WIB, kembali di Ruang 35A 304 Gedung III FKIP Universitas Jember. Kali ini, Muhamad Badrul Mutammam tampil dalam Ujian Seminar Proposal Disertasi.
Judul proposalnya membuat kita otomatis mengingat situasi di kelas: ada mahasiswa yang menjawab cepat, tapi sering “tergelincir”; ada yang lama, tetapi jawabannya rapi dan tepat. Badrul mengangkat itu sebagai fokus ilmiah melalui judul:
“Inhibisi Mahasiswa Bergaya Kognitif Impulsif dan Reflektif dalam Menyelesaikan Masalah Matematika.”
“Inhibisi” di sini adalah kemampuan menahan dorongan respon cepat—semacam “rem” kognitif—agar seseorang tidak gegabah saat memutuskan langkah penyelesaian masalah. Proposal ini menyentuh sisi yang sering luput: matematika bukan hanya soal benar-salah, tetapi juga soal proses berpikir. Jika riset ini kuat, dampaknya bisa panjang: strategi pengajaran bisa dirancang lebih tepat, evaluasi bisa membaca pola kesalahan lebih jernih, bahkan intervensi belajar bisa disesuaikan dengan gaya kognitif mahasiswa.
Tambahan Informasi – Ujian Seminar Proposal Disertasi- Muhamad Badrul Mutammam
Pembimbing
- Dr. Susanto, M.Pd — Pembimbing I
- Dr. Erfan Yudianto, S.Pd., M.Pd — Pembimbing II
- Dr. Dian Kurniati, S.Pd., M.Pd — Pembimbing III
Penguji
- Dr. Nurcholif Diah Sri Lestari, S.Pd., M.Pd — Penguji I
- Dr. Arika Indah Kristiana, S.Si., M.Pd — Penguji II
- Prof. Dr. Kiswara Agung Santoso, S.Si., M.Kom — Penguji III
Bukan Sekadar Agenda Kampus: Ini Peta Arah Riset yang Dekat dengan Kehidupan
Kalau tiga tema ini disusun dalam satu napas, terlihat jelas: Prodi S3 Pendidikan Matematika tidak sedang berdiri di menara gading. Satu riset berbicara tentang pemecahan masalah di SMP (problem yang sehari-hari terjadi di kelas), satu riset merambah keamanan siber (problem yang makin sering menghantui era digital), dan satu lagi membedah kendali berpikir mahasiswa (problem yang menentukan kualitas pembelajaran matematika di level lebih tinggi).
Dan seperti lazimnya ujian doktoral, yang terjadi di ruang sidang bukan panggung seremonial. Ia lebih mirip ruang “uji nyali akademik”: seberapa tahan argumen, seberapa rapi rancangan penelitian, seberapa relevan kontribusi ilmiah, dan seberapa siap peneliti menempuh jalur panjang disertasi.
Itulah mengapa, ketika tiga ujian digelar beruntun, masyarakat kampus biasanya punya satu kesimpulan: ini bukan sekadar jadwal. Ini adalah tiga momentum penting yang menandai denyut ilmu pengetahuan—yang kelak, hasilnya bisa kembali ke ruang kelas, kebijakan pendidikan, dan bahkan keamanan dokumen di dunia nyata.
@Erfan Yudianto