Ngawi, 26 April 2026 — Ahmad Afton Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Angkatan 2023, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Jember raih medali perunggu kategori tanding kelas A putra dalam ajang pencak silat Ngawi Championship IV Tahun 2026 tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh IPSI Kabupaten Ngawi pada 25-26 April 2026 di Ngawi, Jawa Timur.
Semangat dan dedikasi seorang pesilat muda kembali menorehkan tinta emas bagi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember. Ahmad Afton Ilman Huda, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) angkatan 2023, berhasil meraih gelar juara dalam kejuaraan pencak silat tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Ngawi pada 25-26 April 2026 di Ngawi. Prestasi membanggakan ini menjadi bukti nyata bahwa kerja keras dan kedisiplinan mampu mengantarkan seorang atlet muda ke puncak podium bergengsi.
Rasa syukur menjadi ungkapan pertama Ahmad Afton usai pertandingan usai. "Alhamdulillah, saya merasa sangat bersyukur dan bangga atas pencapaian ini. Hasil yang diraih merupakan buah dari kerja keras, latihan, serta doa dari banyak pihak", ujarnya. Baginya, kemenangan ini bukan hanya tentang medali, melainkan sebuah motivasi untuk terus tumbuh dan berkembang sebagai atlet maupun sebagai pribadi yang lebih baik.
Saat memasuki gelanggang, pesan dari sang pelatih terekam jelas di benaknya tetap percaya diri, bermain sesuai strategi, dan jaga emosi sepanjang pertandingan. Perjalanan menuju podium juara tentu tidak ditempuh dengan mudah. Ahmad Afton mengungkapkan bahwa dirinya telah mempersiapkan diri selama beberapa bulan dengan latihan rutin yang mencakup tiga aspek mendasar yakni fisik, teknik, dan mental. Kematangan persiapan itulah yang kemudian ia tuangkan dalam setiap babak pertandingan.
Di atas arena, Ahmad Afton membuktikan bahwa pesan tersebut bukan sekadar kata-kata. Ia mengakui bahwa setiap lawan yang dihadapinya memiliki keunggulan tersendiri, sehingga tidak ada satu pun lawan yang ia anggap remeh. "Saya mengatasi tekanan dengan tetap tenang, fokus, dan percaya diri", tuturnya. Pendekatan itulah yang menjadi senjata utamanya bukan sekadar kekuatan fisik, melainkan kendali mental yang matang di bawah tekanan.
Kemenangan yang diraih Ahmad Afton tidak lahir dari perjuangannya sendiri. Ia dengan tulus mendedikasikan gelar juara tersebut kepada kedua orang tua, pelatih, rekan satu tim, serta seluruh pihak yang telah memberikan dukungan moral maupun doa. Sebuah pengakuan yang mencerminkan karakter seorang juara sejati dengan tetap rendah hati di puncak pencapaian.
Namun demikian, Ahmad Afton tidak terlena oleh gemerlap kemenangan. Ia dengan jujur mengakui bahwa masih terdapat sejumlah kekurangan, terutama dalam aspek teknik dan stamina, yang perlu dievaluasi dan ditingkatkan ke depannya. Pandangan ke depan pun sudah jelas tergambar, Afton menargetkan kejuaraan pada level yang lebih tinggi dan terus mengharumkan nama institusi serta bangsa.
Ahmad Afton menaruh harapan besar agar cabang olahraga warisan budaya ini semakin melahirkan atlet-atlet berprestasi yang mampu bersaing di kancah internasional. Sementara bagi para atlet pemula, ia menitipkan pesan yang sederhana namun sangat bermakna yakni tetap disiplin dalam latihan, pantang menyerah, dan selalu hormati proses serta arahan pelatih.
Kepada seluruh mahasiswa yang masih ragu untuk melangkah ke dunia kompetisi, Ahmad Afton menyampaikan motivasi yang menginspirasi, "Manfaatkan setiap kesempatan, jangan ragu untuk mencoba, dan jadikan setiap pengalaman sebagai pembelajaran untuk menjadi lebih baik", sebuah pesan yang sejatinya, telah ia buktikan sendiri di gelanggang Ngawi.
