JEMBER – Mahasiswa PBSI FKIP Universitas Jember sukses menampilkan sendratari bertajuk “Titising Ratih Blambangan” pada 24 Juni 2026. Pementasan ini diarahkan oleh sutradara Indra Maulana Yusuf dengan tujuan mengajak generasi muda untuk melestarikan budaya daerah, khususnya gandrung Banyuwangi, sekaligus menyampaikan nilai perjuangan, harapan, dan warisan budaya.

Dalam pementasan, sejumlah tokoh tampil dengan peran yang kuat. Indra sebagai Marsan, Aulia sebagai Semi, Venny sebagai Mak Midhah, Rizky Dinda Tiara sebagai penjajah, serta Adel, Athorida, Alvia, Elniqa, dan Cintia sebagai rakyat. Jeje, Sofi, Tasya, Sayu, Adinda, dan Yosi memerankan gandrung, sementara dukun dan maestro diperankan oleh Yogi dan Marsha. Di balik layar, tim produksi turut berperan penting, seperti Pandu sebagai penata musik, Anindita sebagai lighting, serta Erik yang mengoordinasi kostum, properti, dan kru panggung.

Proses persiapan dimulai sejak pertengahan April 2026 dengan survei ke Banyuwangi, penyusunan naskah, pembuatan musik dan koreografi, hingga penyewaan kostum dan teknisi panggung menjelang gladi bersih pada 23 Juni. Menurut sutradara, naskah ini dipilih karena mengangkat budaya lokal Banyuwangi dengan pesan tentang perjuangan, keteguhan, serta pentingnya menjaga tradisi.

Indra menekankan bahwa seluruh tim menjalani latihan rutin, pendalaman karakter, dan pemahaman makna cerita agar pementasan berjalan sesuai visi. “Sebagai sutradara, saya berusaha mengarahkan tim sendratari dari kelas A agar setiap pemain dan kru produksi mampu menampilkan karya yang tidak hanya indah, tetapi juga bermakna,” jelasnya.

Sendratari Titising Ratih Blambangan menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa FKIP Unej mampu menghadirkan karya seni yang sarat nilai budaya sekaligus relevan bagi generasi muda.