JEMBER – Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) sukses menyelenggarakan acara akbar bertajuk PAUD Fair yang berlangsung secara meriah selama dua hari berturut-turut. Menariknya, pagelaran skala besar ini dirancang bukan sekadar sebagai ajang panggung hiburan atau ajang unjuk bakat bagi anak-anak PAUD semata, melainkan memiliki esensi akademik yang sangat kuat. Acara ini secara khusus didedikasikan sebagai wadah pameran dan penilaian akhir bagi para mahasiswa yang ditugaskan untuk menciptakan berbagai inovasi media pembelajaran dan Alat Peraga Edukatif (APE) bagi anak usia dini.

 

Berdasarkan hasil wawancara bersama ketua panitia pelaksana, diketahui bahwa kegiatan PAUD Fair ini merupakan bentuk nyata dari luaran (output) Ujian Akhir Semester (UAS) untuk berbagai mata kuliah seni, yang meliputi Seni Tari, Seni Rupa, Seni Musik, hingga Seni Drama. Melalui acara ini, mahasiswa dituntut untuk tidak hanya memahami teori pedagogik, tetapi juga mampu mengaplikasikannya menjadi sebuah karya nyata yang fungsional bagi perkembangan kognitif dan motorik anak-anak usia dini.

Dalam pelaksanaannya, pameran inovasi media pembelajaran ini melibatkan kolaborasi dari dua angkatan mahasiswa sekaligus, yakni angkatan 2024 dan 2025. Selama masa persiapan yang berkisar antara satu hingga tiga bulan untuk pembuatan alat peraga tersebut, mahasiswa dituntut sekreatif mungkin merancang media yang aman, interaktif, dan sesuai dengan standar kurikulum pendidikan anak usia dini. Alat-alat peraga yang dipamerkan di berbagai stan tersebut kemudian dinilai secara langsung oleh dosen pengampu sebagai pemenuhan nilai akhir semester.

 

Selain pameran APE dan pagelaran seni, kemeriahan PAUD Fair juga diisi dengan kegiatan lokakarya (workshop) bersistem hybrid (daring dan luring). Kegiatan akademik ini turut dihadiri oleh berbagai tokoh penting, mulai dari Wakil Dekan, Ketua Program Studi, Kepala Pusat Perbukuan (Pusbuk) Kemdikbudristek yang bertindak sebagai narasumber, hingga para guru TK dan guru Lab School setempat. Kehadiran para praktisi pendidikan ini semakin mengukuhkan bahwa karya alat peraga yang dibuat oleh mahasiswa langsung dievaluasi dan disaksikan oleh para profesional di bidangnya.

 

Di balik kesuksesan dan kemegahan acara yang disokong melalui pendanaan mandiri oleh mahasiswa tersebut, terdapat dinamika kepanitiaan yang cukup menantang. Ketua panitia mengungkapkan bahwa persiapan acara ini terbilang sangat mendadak. Kepanitiaan baru dibentuk sekitar tiga minggu sebelum hari H, di mana panitia harus bekerja ekstra keras untuk menyelaraskan berbagai konsep dan arahan yang dinamis dari para dosen pembimbing.

 

"Harapan ke depannya, jika memang akan diadakan kegiatan sebesar ini lagi, alangkah baiknya tidak mendadak. Jika memang ditujukan untuk menjadi wadah yang sempurna secara keseluruhan, persiapannya bisa dirancang matang mungkin sejak awal semester, sehingga mahasiswa tidak terlalu tergesa-gesa dan hasilnya bisa jauh lebih maksimal," pungkas ketua panitia saat menutup sesi wawancara. Acara PAUD Fair ini pada akhirnya sukses membuktikan bahwa kolaborasi antara kreativitas seni dan inovasi media pembelajaran mampu menciptakan sebuah ekosistem pendidikan yang menyenangkan sekaligus edukatif, baik bagi anak-anak PAUD yang hadir, maupun bagi mahasiswa yang sedang menempuh proses menjadi calon pendidik profesional.

 

(nfl/nmm)