Jember, Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember kembali menyelenggarakan Praktik Kuliah Lapang (PKL) sebagai bagian dari implementasi pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning). Mengusung tema "Mengkaji Kearifan Lokal Melalui Ilmu Antropologi dan Kesejarahan", kegiatan yang berlangsung pada 5–7 Juni 2026 ini mengajak mahasiswa melakukan observasi langsung ke berbagai situs sejarah, museum, dan kawasan budaya di Kota Surakarta dan Semarang.

Kegiatan PKL didampingi oleh dosen Program Studi Pendidikan Sejarah, yaitu Gusti Ngurah Ary Kesuma, S.S., M.A., Guruh Prasetyo, M.Pd., Anis Syatul Hilmiah, M.Pd., dan Fernanda Prasky Hartono, S.Pd., M.A. Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk menghubungkan teori yang dipelajari di ruang kuliah dengan realitas sejarah dan budaya yang masih hidup di tengah masyarakat.

Selama tiga hari pelaksanaan, mahasiswa mengunjungi enam destinasi yang memiliki nilai historis dan antropologis tinggi, yaitu Pura Mangkunegaran Surakarta, Museum Lokananta Solo, Pasar Lama Pecinan Semarang, Lawang Sewu, Museum Ranggawarsita, dan Museum Kota Lama Semarang. Masing-masing lokasi memberikan pengalaman belajar yang berbeda, mulai dari sejarah politik dan kebudayaan Jawa, perkembangan industri rekaman nasional, akulturasi budaya masyarakat multietnis, hingga dinamika perkembangan kota-kota kolonial di Indonesia.

Di Pura Mangkunegaran, mahasiswa mempelajari peran institusi kerajaan dalam menjaga keberlanjutan tradisi dan budaya Jawa. Sementara itu, di Museum Lokananta, mahasiswa memperoleh pemahaman mengenai sejarah industri rekaman Indonesia beserta kontribusinya dalam mendokumentasikan musik tradisional dan memperkuat identitas budaya nasional.

Pembelajaran lapangan berlanjut di kawasan Pasar Lama Pecinan Semarang yang menjadi contoh nyata kehidupan masyarakat multikultural. Melalui observasi terhadap aktivitas sosial, arsitektur, hingga tradisi masyarakat, mahasiswa dapat melihat secara langsung proses akulturasi budaya yang telah berlangsung selama ratusan tahun dan tetap menjadi bagian penting dari identitas Kota Semarang.

Kunjungan ke Lawang Sewu memberikan perspektif mengenai perkembangan infrastruktur transportasi pada masa kolonial sekaligus perannya dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Adapun Museum Ranggawarsita menghadirkan koleksi yang memperkaya pemahaman mahasiswa mengenai perjalanan sejarah, arkeologi, etnografi, dan kebudayaan masyarakat Jawa Tengah. Kegiatan ditutup dengan kunjungan ke Museum Kota Lama Semarang yang memperlihatkan transformasi kawasan kota tua sebagai pusat perdagangan kolonial menjadi kawasan pelestarian warisan budaya dan destinasi edukasi sejarah.

Salah satu dosen pendamping, Fernanda Prasky Hartono, S.Pd., M.A., menjelaskan bahwa Praktik Kuliah Lapang merupakan bagian penting dalam membangun kompetensi akademik mahasiswa, khususnya dalam mengembangkan kemampuan berpikir historis dan analisis sosial budaya.

"Melalui pembelajaran di lapangan, mahasiswa tidak hanya memahami sejarah sebagai kumpulan peristiwa, tetapi juga mampu melihat bagaimana warisan sejarah dan budaya terus hidup dalam kehidupan masyarakat saat ini. Pengalaman seperti ini diharapkan dapat membentuk cara berpikir yang lebih kritis, reflektif, sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap pelestarian warisan budaya Indonesia," ungkapnya.

Kegiatan ini juga mendapat antusiasme tinggi dari para mahasiswa karena memberikan pengalaman belajar yang lebih kontekstual dibandingkan pembelajaran di kelas. Interaksi langsung dengan situs sejarah, museum, dan masyarakat memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan observasi, interpretasi sumber sejarah, serta analisis terhadap fenomena sosial budaya yang dijumpai selama kegiatan berlangsung.

Melalui penyelenggaraan Praktik Kuliah Lapang, Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Jember terus berkomitmen menghadirkan proses pembelajaran yang inovatif, aplikatif, dan relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat kompetensi lulusan sebagai calon pendidik dan sejarawan yang tidak hanya memiliki penguasaan teori, tetapi juga kepekaan terhadap pelestarian sejarah, budaya, dan kearifan lokal sebagai bagian dari identitas bangsa.