JEMBER
– Hujan lebat yang datang tiba-tiba, kemarau yang kian panjang, hingga banjir dan longsor yang silih berganti kini menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia. Di tengah situasi tersebut, Program Studi Pendidikan Geografi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember (Unej) menggelar bedah buku Meteorologi dan Klimatologi karya Prof. Dr. Sri Astutik, M.Si., pada Kamis (15/10/2026).

Kegiatan yang berlangsung secara hybrid, yakni luring di Gedung A FKIP Unej dan daring melalui Zoom Meeting, ini menghadirkan dua pemantik dari latar belakang yang saling melengkapi: Teguh Tri Susanto, S.Si., M.T., Kepala Stasiun Meteorologi Banyuwangi, sebagai wakil praktisi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta Dr. Emilya Nurjani, S.Si., M.Si., dosen Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), dari kalangan akademisi. Diskusi dipandu oleh Alif Putra Lestari, M.Pd., selaku moderator, dan diikuti oleh dosen serta mahasiswa.

Dalam sambutannya, Prof. Sri Astutik, yang juga menjabat Koordinator Program Studi Pendidikan Geografi Unej, menegaskan bahwa forum bedah buku tidak sekadar menjadi ajang menilai sebuah karya, tetapi juga sarana pengembangan kompetensi bagi mahasiswa dan dosen.

“Proses bedah buku ini dapat mengembangkan kompetensi mahasiswa dan dosen, karena meteorologi dan klimatologi merupakan landasan utama dalam mewujudkan lingkungan yang asri.”

— Prof. Dr. Sri Astutik, M.Si., Penulis Buku dan Koordinator Prodi Pendidikan Geografi Unej

Senada dengan itu, Dekan FKIP Universitas Jember, Dr. Mohammad Na’im, M.Pd., memandang bedah buku sebagai salah satu cara untuk menambah ilmu. Ia berharap para pembedah dapat memberikan pencerahan, khususnya terkait peningkatan kompetensi di bidang meteorologi dan klimatologi.

Buku Ajar yang Disusun dari Kebutuhan Perkuliahan

Mengawali sesi pemaparan, Prof. Sri Astutik menjelaskan bahwa buku ajar ber-ISBN yang terbit pada 2022 ini disusun sesuai Rencana Pembelajaran Semester (RPS) mata kuliah Meteorologi dan Klimatologi, dengan sistematika yang mengikuti ketentuan buku ajar Universitas Jember. Buku ini ditujukan sebagai bahan ajar bagi mahasiswa tingkat dasar.

Isinya mencakup tiga belas pokok bahasan, mulai dari atmosfer dan dinamikanya, tekanan udara dan isobar, gerakan bumi, penyinaran matahari, massa udara dan proses adiabatik, angin dan evaporasi, evapotranspirasi, kelembapan udara dan awan, hingga hujan dan penyebarannya. Bagian berikutnya memuat penggunaan alat meteorologi dan pengolahan data praktikum lapangan, lalu ditutup dengan pembahasan klasifikasi iklim serta hubungan iklim dengan kehidupan manusia, mulai dari pertanian, kesehatan, hingga pengelolaan sumber daya alam.

Menurut penulis yang telah menghasilkan 12 buku ber-ISBN ini, bedah buku bertujuan menemukan kekuatan, keterbatasan, serta peluang pengembangan isi buku, sekaligus merumuskan manfaatnya bagi pembelajaran, riset, dan pengabdian kepada masyarakat.

Kacamata Praktisi: Teori Harus Berujung pada Keselamatan Publik

Sebagai pemantik pertama, Teguh Tri Susanto menilai buku ini memberikan fondasi keilmuan yang penting bagi mahasiswa untuk memahami atmosfer dan gejala cuaca. Namun, dari perspektif BMKG, penguasaan teori harus dilanjutkan dengan kemampuan menganalisis data observasi, memahami dinamika atmosfer, menyusun prakiraan berbasis bukti, memverifikasi hasilnya, hingga menerjemahkannya menjadi peringatan dini cuaca ekstrem yang berdampak nyata bagi keselamatan masyarakat.

Ia juga memberikan sejumlah catatan terminologi. Istilah “ramalan” dan “peramal” disarankan diganti menjadi “prakiraan” dan “prakirawan”, sejalan dengan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2009 tentang Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika serta standar operasional BMKG. Istilah “pesawat meteorologi” juga dinilai berpotensi disalahpahami sebagai pesawat terbang, sehingga lebih tepat diganti menjadi “peralatan” atau “instrumentasi meteorologi”, dilengkapi pembahasan Automatic Weather Station (AWS).

Teguh turut meluruskan sejumlah konsep. El Niño dan La Niña, misalnya, bukanlah badai, melainkan fenomena interaksi suhu permukaan laut dan atmosfer di Samudra Pasifik yang dikenal sebagai ENSO (El Niño-Southern Oscillation). Ia juga menekankan pentingnya pemahaman kestabilan atmosfer: atmosfer yang labil tidak serta-merta menghasilkan hujan lebat, karena tetap dibutuhkan mekanisme pemicu dan ketersediaan uap air.

“Prakiraan yang baik bukan hanya prakiraan yang benar secara ilmiah, tetapi juga prakiraan yang dapat digunakan oleh masyarakat.”

— Teguh Tri Susanto, S.Si., M.T., Kepala Stasiun Meteorologi Banyuwangi

Untuk pengembangan ke depan, ia mengusulkan agar buku diperkaya dengan studi kasus lokal berbasis data observasi, latihan interpretasi citra radar, satelit, peta sinoptik, dan keluaran model numerik, serta materi tentang cuaca ekstrem, bencana hidrometeorologi, dan Operasi Modifikasi Cuaca.

Kacamata Akademisi: Menata Ulang Struktur demi Pembelajaran

Pemantik kedua, Dr. Emilya Nurjani, mengawali ulasannya dengan apresiasi atas kontribusi penulis dalam memperkaya khazanah keilmuan meteorologi dan klimatologi. Menurutnya, kehadiran buku semacam ini semakin relevan di tengah perubahan pola curah hujan, peningkatan suhu, dan meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi.

“Pemahaman tentang proses atmosfer dan dinamika iklim bukan lagi semata-mata kebutuhan akademik, melainkan juga menjadi dasar penting dalam pengambilan keputusan.”

— Dr. Emilya Nurjani, S.Si., M.Si., Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada

Dari sisi format, Emilya menyarankan buku setebal 191 halaman ini disusun menjadi 14 bab agar sesuai dengan jumlah tatap muka perkuliahan, serta dilengkapi ringkasan, istilah kunci, glosarium, dan indeks. Ia juga mencatat bahwa porsi klimatologi masih perlu diperkuat, sehingga materi klasifikasi iklim yang tersebar sebaiknya dihimpun dalam satu bab.

Secara substansi, ia mengusulkan bab pendahuluan yang membedakan meteorologi, klimatologi, cuaca, dan iklim, serta pembahasan parameter cuaca yang dimulai dari radiasi matahari sebagai sumber energi utama. Sejumlah judul bab juga disarankan disesuaikan, seperti “Presipitasi” untuk bab hujan, “Sirkulasi Udara” untuk bab angin, dan “Pengukuran Meteorologi” untuk bab peralatan. Ia juga mendorong pembahasan perbedaan perubahan iklim dan variabilitas iklim, beserta pengaruh ENSO dan MJO terhadap wilayah Indonesia.

Dua Perspektif, Satu Arah

Meski berangkat dari sudut pandang berbeda, kedua pemantik bertemu pada satu benang merah: buku ajar meteorologi dan klimatologi perlu terhubung erat dengan realitas atmosfer Indonesia, mulai dari monsun, ENSO, MJO, hingga cuaca ekstrem, serta dengan praktik pengolahan data yang berstandar BMKG dan WMO. Berbagai masukan yang disampaikan diharapkan menjadi bekal berharga bagi penyempurnaan buku pada edisi berikutnya.

Melalui kegiatan ini, Prodi Pendidikan Geografi Unej menegaskan komitmennya untuk menjembatani dunia akademik dan dunia praktik, sehingga lulusannya tidak hanya memahami teori, tetapi juga siap berkontribusi dalam upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Seperti pesan yang disampaikan Prof. Sri Astutik di akhir pemaparannya, “Masa depan adalah milik mereka yang menyiapkan hari ini.”