Jember, 21 April 2026 – Upaya mewujudkan pendidikan dasar yang inklusif, adaptif, dan berkualitas terus diperkuat melalui kegiatan Workshop Strategi Pengajaran Inklusif berbasis Pembelajaran Mendalam yang diselenggarakan oleh Program Studi PGSD FKIP Universitas Jember. Kegiatan ini menjadi ruang kolaboratif antara akademisi dan praktisi pendidikan dalam menjawab tantangan kompleks pembelajaran di sekolah dasar, khususnya dalam mengakomodasi keberagaman peserta didik serta mendorong implementasi pembelajaran yang tidak lagi berorientasi pada hafalan, melainkan pada pemahaman yang mendalam, reflektif, dan bermakna.

Pemateri pertama, Prof. Dr. Minsih, M.Pd., memaparkan bahwa pembelajaran mendalam (deep learning) dalam konteks pendidikan inklusif merupakan pendekatan yang menekankan proses internalisasi pengetahuan secara personal, kontekstual, dan berkelanjutan. “Pembelajaran tidak cukup hanya berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi harus mampu menghubungkan konsep dengan pengalaman nyata peserta didik,” ungkapnya. Ia juga menegaskan bahwa pendekatan ini mendorong kemampuan berpikir kritis, kreatif, serta reflektif, sekaligus relevan dengan prinsip pendidikan inklusif yang menghargai keberagaman dan kebutuhan unik setiap individu.

Selanjutnya, Bagus Indrajit, S.Pd., sebagai praktisi pendidikan sekaligus kepala sekolah, mengangkat topik “Integrasi Inklusi dan Deep Learning” dengan menekankan pentingnya peran guru sebagai agen perubahan dalam menciptakan pembelajaran yang berpihak pada peserta didik. “Guru harus mampu memahami kebutuhan setiap siswa melalui asesmen awal, kemudian menyesuaikan strategi pembelajaran agar lebih diferensiatif dan bermakna,” jelasnya. Ia juga menambahkan bahwa pembelajaran mendalam dapat diwujudkan melalui tiga prinsip utama, yaitu mindful learning, meaningful learning, dan joyful learning, yang secara simultan membangun pengalaman belajar yang sadar, bermakna, dan menyenangkan.

Pada sesi berikutnya, Anis Yulia Rachman, S.Pd., bersama Haidar sebagai narasumber praktisi disabilitas, menghadirkan perspektif yang lebih kontekstual mengenai implementasi pendidikan inklusif di lapangan. Anis menjelaskan bahwa pendidikan inklusi merupakan sistem yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik untuk belajar bersama tanpa diskriminasi. “Inklusi bukan sekadar menghadirkan siswa berkebutuhan khusus di kelas reguler, tetapi bagaimana sistem pembelajaran menyesuaikan agar semua peserta didik dapat berpartisipasi secara penuh,” jelasnya. Ia juga menyoroti pentingnya aksesibilitas, seperti penggunaan juru bahasa isyarat, visualisasi materi, dan lingkungan belajar yang ramah bagi semua.