JEMBER – Tim BBA (Beasiswa Bakti Alumni) dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember kembali menorehkan tinta emas dengan meraih prestasi membanggakan pada ajang kompetisi videografi tingkat mahasiswa. Tim kreatif yang dipimpin oleh Farhan Qomarudin, beserta empat anggotanya yakni Eka Satria Wibawa, Ribi Dwi Laily Rezqi, Maharani Asri, dan Muhammad Fizal Alfarizi, sukses memukau dewan juri. Mereka berhasil mencuri perhatian melalui karya visual yang secara tajam mengangkat isu krusial mengenai kesejahteraan tenaga pendidik. Pencapaian luar biasa ini diraih melalui proses kreatif yang intens dan kolaborasi tim yang sangat solid, guna menaklukkan tantangan batas waktu pengumpulan karya yang sangat ketat.
Dinamika di balik layar pembuatan video ini meninggalkan kesan yang amat mendalam bagi seluruh anggota tim. Keterbatasan waktu menjadi rintangan terbesar yang menguji mental dan kekompakan kelima mahasiswa tersebut. "Perasaan saya campur aduk, antara kaget dan tidak kaget", ungkap Eka Satria Wibawa selaku perwakilan dari Tim BBA. Lebih lanjut, ia menguraikan bahwa kekagetan tersebut muncul karena proses produksi benar-benar dilakukan dalam durasi yang sangat mepet dengan tenggat waktu lomba. Walaupun berada di bawah tekanan tenggat waktu yang singkat, mereka tetap menunjukkan dedikasi penuh dalam membagi tugas penyusunan konsep, pengambilan gambar, hingga penyuntingan. "Meskipun waktu yang dimiliki terbatas, kami tetap berusaha memberikan hasil terbaik, dan alhamdulillah usaha tersebut membuahkan hasil yang membanggakan", tegasnya menceritakan jerih payah tim yang pantang menyerah.
Daya pikat utama dari karya Tim BBA terletak pada substansi pesan moral yang sangat lekat dengan identitas mereka sebagai mahasiswa fakultas pendidikan. Ide awal penciptaan konsep ini rupanya bermula dari hasil riset tim terhadap berbagai referensi visual di platform media sosial. "Namun, kami tidak menyalinnya secara utuh, melainkan memodifikasi dan mengembangkannya menjadi konsep yang sesuai dengan gagasan tim", jelas Eka. Melalui diskusi yang matang, mereka sepakat untuk memotret realitas sosial yang masih kerap menjadi polemik. "Kami mengangkat isu tentang profesi guru, khususnya kesejahteraan guru yang masih menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat", tambahnya. Karya ini didedikasikan sebagai bentuk kepedulian nyata sekaligus pemantik refleksi bagi penonton akan krusialnya peran pahlawan tanpa tanda jasa di Indonesia.
Keberhasilan penyampaian pesan emosional tersebut juga didukung oleh keunggulan aspek teknis dan sinematografi. Walaupun berpacu dengan waktu yang terbatas, kualitas visual tetap menjadi prioritas utama bagi seluruh anggota tim. "Menurut saya, ada beberapa aspek yang menjadi kekuatan video kami", tutur Eka saat membeberkan rahasia dapur kesuksesan timnya. Ia merincikan bahwa tim memaksimalkan penggunaan kamera ponsel cerdas untuk menghasilkan gambar yang jernih. "Proses editing yang dibuat dengan nuansa sinematik sehingga mampu membangun emosi penonton", urainya lebih lanjut. Kombinasi apik antara eksekusi visual yang memanjakan mata dan relevansi tema membuat karya Tim BBA memiliki daya saing yang sangat unggul.
Kemenangan ini tidak lantas membuat kelima mahasiswa tersebut berpuas diri, melainkan menjadi batu loncatan strategis untuk terus melahirkan karya inovatif. "Setelah pencapaian ini, saya bersama tim berencana untuk terus mengikuti berbagai kompetisi videografi lainnya, kemungkinan dengan formasi tim yang sama", tutur Eka dengan penuh keyakinan. Mereka berkomitmen untuk terus meningkatkan kapasitas diri, dengan menargetkan gelar juara pertama pada ajang-ajang bergengsi selanjutnya. Mengakhiri sesi wawancara, Eka menitipkan pesan penyemangat bagi sesama mahasiswa. "Pesan saya, jangan pernah takut untuk mulai berkarya", pungkasnya. Ia berharap momentum ini dapat memotivasi mahasiswa lain untuk terus mengeksplorasi potensi, berani mencoba hal baru, dan berani menciptakan karya yang membawa dampak positif bagi masyarakat luas.
(nfl/nmm)