Jember— Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember kembali menunjukkan komitmennya dalam mencetak calon pendidik berdaya saing internasional melalui program Asistensi Mengajar (Asjar) Internasional. Sebanyak 20 mahasiswa terpilih akan mengikuti program asistensi mengajar di Thailand selama dua bulan sebagai bagian dari upaya penguatan kompetensi akademik dan pengalaman global mahasiswa FKIP UNEJ.
Kegiatan pembekalan Asjar Internasional tersebut dilaksanakan pada Rabu, 6 Mei 2026 mulai pukul 07.00 WIB hingga selesai di Aula Gedung A Lantai 3 FKIP Universitas Jember. Kegiatan ini menjadi salah satu tahap penting sebelum mahasiswa diberangkatkan ke negara tujuan. Melalui pembekalan tersebut, peserta dibekali berbagai materi yang berkaitan dengan kesiapan akademik, budaya, hingga mental selama menjalankan program internasional.
Program Asjar Internasional diselenggarakan untuk memberikan pengalaman belajar secara langsung di bidang pendidikan, khususnya di sekolah-sekolah wilayah Thailand. Selain menjadi wadah implementasi kompetensi mengajar, program ini juga bertujuan membentuk personal value mahasiswa melalui pengalaman lintas budaya dan lingkungan pendidikan internasional. Melalui program tersebut, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan keterampilan profesional sekaligus memperluas wawasan global di dunia pendidikan.
Sebelum diberangkatkan, mahasiswa harus melalui serangkaian proses seleksi yang meliputi penjaringan administratif, tes wawancara, penilaian prestasi akademik dan nonakademik, tes kemampuan bahasa Inggris, hingga evaluasi kemampuan mengajar. Hasil seleksi kemudian diumumkan kepada masing-masing program studi terkait. Proses tersebut dilakukan untuk memastikan peserta yang terpilih memiliki kesiapan akademik maupun mental dalam mengikuti program internasional.

Dalam kegiatan pembekalan, FKIP Universitas Jember menekankan sejumlah kompetensi penting yang harus dimiliki mahasiswa. Selain kemampuan dasar mengajar yang matang, mahasiswa juga diharapkan mampu menyusun program kreatif sesuai bidang dan tingkat pendidikan masing-masing. Terdapat tiga materi utama yang menjadi fokus pembekalan, yakni kemampuan adaptasi lintas budaya, kesiapan mental dan problem solving, serta penyusunan program kerja yang akan diterapkan di sekolah tujuan.
Sebagai bentuk persiapan menghadapi perbedaan budaya dan sistem pendidikan di Thailand, KKPLP FKIP UNEJ menghadirkan narasumber langsung dari negara tujuan, seperti dosen dari Santiwit Technological College Thailand. Kehadiran narasumber internasional tersebut memberikan wawasan mendalam mengenai kultur masyarakat dan sistem pendidikan di Thailand. Selain itu, FKIP juga menghadirkan alumni peserta Asjar Internasional tahun sebelumnya untuk berbagi pengalaman dan tips selama menjalani program di luar negeri.
Dukungan fakultas terhadap peserta program tidak hanya diberikan sebelum keberangkatan, tetapi juga selama kegiatan berlangsung. FKIP memberikan bantuan transportasi bagi mahasiswa, sementara kebutuhan akomodasi dan konsumsi selama di Thailand ditanggung oleh sekolah mitra. Dalam proses pendampingan, seorang dosen pembimbing turut mengantar dan mendampingi mahasiswa pada awal pelaksanaan program. Selanjutnya, monitoring dan pendampingan dilakukan secara daring guna memastikan kegiatan berjalan dengan baik.
Melalui program ini, FKIP Universitas Jember berharap mahasiswa mampu memanfaatkan kesempatan internasional tersebut untuk membangun portofolio pribadi dan memperkaya pengalaman yang tidak dimiliki semua orang. Pengalaman tersebut diharapkan menjadi nilai tambah ketika mahasiswa memasuki dunia kerja setelah lulus. Di sisi lain, program Asjar Internasional juga dinilai berkontribusi besar dalam meningkatkan kualitas lulusan FKIP UNEJ sekaligus mendukung visi fakultas dalam mencetak pendidik profesional yang berwawasan global.
Ke depan, FKIP Universitas Jember berkomitmen memperluas jejaring kerja sama internasional untuk program Asjar. Jika sebelumnya kerja sama lebih banyak berfokus pada Thailand, kini FKIP mulai menjajaki kolaborasi dengan negara lain, termasuk Brunei Darussalam, sebagai langkah pengembangan program internasional yang lebih luas dan berkelanjutan.