JEMBER – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember kembali menorehkan tinta emas di kancah nasional. Delis Ning Agustina sukses menyabet gelar Juara 3 pada ajang Olimpiade Sastra Nasional (OSN 3.6) untuk bidang lomba Cipta Puisi. Kompetisi bergengsi tingkat nasional yang diselenggarakan secara daring oleh pihak Olimpiade Sastra ini berlangsung sejak bulan Mei hingga Juni 2026. Keberhasilan Delis dalam menaklukkan dewan juri dan menyisihkan total 1.224 peserta dari berbagai penjuru tanah air ini diraih melalui proses kreatif yang mendalam serta persiapan karya sastra yang amat matang. Pencapaian luar biasa ini sekaligus menegaskan kualitas literasi dan sensitivitas seni mahasiswa FKIP Universitas Jember yang mampu bersaing secara kompetitif di level nasional.

 

Di balik gemilangnya prestasi yang diraih, terdapat kisah pantang menyerah yang patut menjadi teladan bagi mahasiswa lainnya. Kemenangan pada OSN 3.6 ini rupanya merupakan buah dari proses pembelajaran panjang atas kegagalan yang pernah dialaminya pada edisi kompetisi sebelumnya. "Ini sebenarnya bukan pertama kalinya saya mengikuti OSN. Sebelumnya, saya juga pernah mengikuti OSN 3.5 di bidang cipta puisi, tetapi saat itu belum berhasil meraih juara", ungkap Delis. Kegagalan tersebut tidak lantas memadamkan semangatnya, melainkan justru menjadi cambuk untuk terus mengevaluasi dan menyempurnakan kualitas tulisannya. "Ketika OSN 3.6 dibuka, saya kembali mencoba dengan mempersiapkan karya sebaik mungkin, mulai dari memahami tema, mencari gagasan, menentukan diksi, hingga beberapa kali merevisi puisi", jelasnya. Kegigihannya untuk menciptakan karya dengan ciri khas yang kuat akhirnya terbayar lunas pada kompetisi bergengsi kali ini.

 

Proses penciptaan karya sastra tentu tidak pernah lepas dari berbagai rintangan, terutama yang berkaitan dengan kepuasan batin sang penulis. Delis mengakui bahwa peperangan batin saat melakukan proses penyuntingan menjadi tantangan terberat selama masa persiapan lomba. "Tantangan terberat bagi saya justru ketika harus menentukan apakah sebuah tulisan sudah cukup 'selesai' atau masih perlu diperbaiki", urai mahasiswa PGSD tersebut. Ia menjelaskan bahwa kerap kali muncul keraguan estetis setelah merangkai kata demi kata. "Kadang saya sudah merasa cocok dengan sebuah larik, tetapi setelah dibaca lagi, ternyata masih ada yang ingin saya ubah. Saya juga ingin tetap mempertahankan gaya tulisan saya sendiri tanpa keluar dari tema yang ditentukan", tambahnya. Proses yang menuntut pertimbangan ketat dan revisi berulang ini pada akhirnya bermuara pada sebuah karya yang utuh dan meyakinkan.

 

Untuk perlombaan kali ini, panitia penyelenggara menetapkan tema besar yang sarat akan makna, yakni "Namamu Dalam Doaku". Merespons tema tersebut, Delis melahirkan sebuah puisi indah yang diberi tajuk "Kelopak Munajat". "Proses kreatifnya saya awali dengan memahami tema, kemudian saya mencoba mengolahnya melalui perasaan tentang seseorang yang akhirnya saya titipkan kepada Tuhan", papar Delis mengenai akar gagasan puisinya. Ia menggunakan pendekatan metaforis yang kuat untuk menguraikan pesan moral di dalam karyanya. "Saya menggunakan simbol seperti benih, kelopak, embun, dan bunga untuk menggambarkan perjalanan doa, harapan, hingga keikhlasan", terangnya. Lebih lanjut, ia menguraikan filosofi di balik pemilihan tajuk karyanya. "Judul 'Kelopak Munajat' saya pilih karena saya membayangkan doa-doa yang perlahan tumbuh dan mekar dalam munajat. Puisinya menggambarkan tentang mencintai dan mendoakan seseorang, kemudian belajar melepaskannya dengan ikhlas", jelas Delis.

 

Kesuksesan Delis dalam ajang berskala nasional ini diraih melalui kemandirian dan dedikasi personal yang sangat tinggi. Ia mematangkan karyanya secara otonom sebelum akhirnya sukses membawa pulang gelar juara. "Selama proses persiapan, saya lebih banyak mempersiapkan karya secara mandiri", ungkapnya. Walaupun demikian, pencapaian tersebut langsung mendapatkan sambutan hangat dan apresiasi positif dari lingkungan akademiknya. "Untuk dukungan dari pihak fakultas, saya sangat mengapresiasi perhatian dan apresiasi yang diberikan setelah saya meraih prestasi ini", tuturnya dengan penuh rasa syukur. Ia memandang bahwa apresiasi dari fakultas merupakan pendorong semangat yang sangat esensial bagi langkahnya ke depan. "Saya berharap pencapaian ini dapat menjadi motivasi bagi saya untuk terus berkarya dan juga menjadi bagian dari harapan fakultas agar mahasiswanya terus mengembangkan potensi dan membawa nama baik FKIP UNEJ", sambungnya.

 

Gelar Juara 3 Nasional ini dipastikan tidak membuat Delis Ning Agustina lekas berpuas diri. Ia menjadikan pencapaian ini sebagai tonggak awal untuk melangkah lebih jauh dan menyelami dunia kesusastraan Indonesia secara lebih komprehensif. Ia berkomitmen untuk terus mengasah kepekaan rasa dan ketajaman penanya di masa mendatang. "Saya berharap bisa terus konsisten menulis dan mengembangkan kemampuan dalam karya sastra", tegas Delis terkait proyeksi kariernya di bidang literasi. Ia berencana untuk mengekspansi kemampuannya melampaui zona nyaman yang ada saat ini. "Ke depannya, saya ingin lebih berani mengeksplorasi gaya penulisan dan mengikuti lebih banyak kompetisi untuk terus belajar dan berkembang", pungkasnya. Semangat eksplorasi dan konsistensi ini diharapkan mampu melahirkan karya-karya sastra fenomenal lainnya dari tangan mahasiswa Universitas Jember.

 

(nfl/nmm)