JEMBER – Seluruh elemen mahasiswa Kelas B, PBSI FKIP UNEJ secara kompak dan sukses menyelenggarakan sebuah pagelaran seni berskala ruang yang bertajuk "Bahtera Arutala" pada hari Minggu 21 Juni 2025 yang bertempat di Gedung E 101 dan E 102. Kegiatan unjuk bakat dan kreativitas yang mengundang antusiasme tinggi ini diselenggarakan sebagai bentuk pemenuhan tugas praktik lapangan sekaligus proyek luaran Ujian Akhir Semester (UAS) untuk mata kuliah Pranata Acara. Melalui arahan dan bimbingan langsung dari dosen pengampu mata kuliah terkait, persiapan acara yang dilakukan secara intensif selama kurun waktu satu bulan tersebut berhasil dieksekusi dengan sangat meriah dan lancar oleh seluruh mahasiswa yang mengambil perannya masing-masing secara totalitas.

Pemilihan identitas pagelaran ini sejatinya berangkat dari sebuah akronim dan rumusan filosofi yang mendalam. Hal tersebut dikonfirmasi langsung melalui wawancara bersama Ketua Panitia pelaksana kegiatan. "Sebenarnya Bahtera Arutala tidak memiliki makna filosofis yang terlalu spesifik, kata Bahtera sendiri merupakan singkatan dari Bait Harmoni Tari dan Ragam Sastra", ungkap Ketua Panitia membedah makna nama acara. Ia kemudian menambahkan pesan filosofis dari nama tersebut, "Sementara itu Arutala kami tambahkan karena memiliki makna cita-cita yang tinggi, setinggi rembulan dan seindah bintang-bintang, yang selaras dengan harapan kami agar acara ini dapat berjalan dengan sukses."

Dinamika persiapan pagelaran Bahtera Arutala ini telah digencarkan sejak satu bulan sebelum hari pelaksanaan. Setelah kerangka kepanitiaan terbentuk dengan solid, panitia mulai merumuskan konsep pertunjukan yang disesuaikan secara cermat dengan kapasitas serta kemampuan spesifik dari masing-masing penampil. Mengingat panggung pementasan diselenggarakan di dalam ruangan tertutup, panitia harus menyiasati konsep tata panggung agar tetap bernilai estetis tinggi namun menyesuaikan dengan keterbatasan kondisi spasial. Seluruh mahasiswa Kelas B, baik sebagai panitia pengelola maupun penampil, menunjukkan tingkat antusiasme yang luar biasa.

Dalam proses mewujudkan mahakarya pagelaran seni ini, panitia tidak menampik adanya dinamika serta berbagai tantangan yang menguji soliditas tim. "Kendala yang kami hadapi selama persiapan dan pelaksanaan acara lebih banyak berkaitan dengan komunikasi antara panitia dan para penampil", jelas Ketua Panitia saat mengevaluasi kendala terbesar di lapangan. Meski demikian, situasi tersebut dapat diatasi berkat kesigapan manajemen krisis dari panitia. "Untuk mengatasi kendala yang muncul, kami menyiapkan berbagai alternatif atau rencana cadangan, seperti plan kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya agar kegiatan tetap dapat berjalan dengan baik", urainya.

Dari rentetan hambatan yang berhasil diselesaikan tersebut, mahasiswa Kelas B memetik sebuah pelajaran esensial terkait dunia manajemen acara. "Nilai penting yang kami peroleh dari pelaksanaan acara ini adalah pentingnya menjaga komitmen dan profesionalitas dalam bekerja sama sebagai sebuah tim", tutur Ketua Panitia merefleksikan hasil evaluasi internal kepanitiaan.Menutup sesi wawancara, pihak panitia juga menyampaikan rasa syukur sekaligus permohonan maaf secara terbuka kepada para pengunjung yang hadir. "Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh penonton yang telah antusias hadir dan menyaksikan pagelaran seni kami, dan kami juga memohon maaf apabila masih terdapat berbagai kekurangan, baik dari segi hidangan, tempat, maupun hal lainnya", tutup Ketua Panitia.

 

(nfl/nmm)