JEMBER – Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember kembali menorehkan prestasi gemilang di bidang olahraga bela diri. Muhammad Wayan Suphan Putra, mahasiswa FKIP Universitas Jember, berhasil meraih gelar juara pertama dalam ajang kejuaraan pencak silat tingkat kabupaten bertajuk Banyuwangi IKS Cup X 2026. Kompetisi bergengsi yang diselenggarakan oleh IKSPI Cabang Banyuwangi tersebut berlangsung dengan sangat kompetitif sejak tanggal 30 Juni hingga 2 Juli 2026. Perhelatan adu ketangkasan fisik dan mental ini dipusatkan di Aula Muhammad Cheng Hoo, Jalan Sutawijaya Nomor 31A, Kelurahan Sumberejo, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi. Keberhasilan Wayan dalam menaklukkan panggung kejuaraan ini diraih setelah dirinya melewati serangkaian proses persiapan dan latihan yang panjang bersama tim kontingennya.
Mengikuti sebuah kejuaraan pencak silat tentu membutuhkan kesiapan fisik, penguasaan taktik, dan ketahanan mental yang tidak main-main. Wayan, yang turun dan bertanding pada kategori Kelas D Dewasa ini, menyadari betul bahwa persaingan di atas matras akan berlangsung sangat ketat mengingat status kompetisi yang mencakup seluruh wilayah kabupaten. Oleh karena itu, ia telah merancang program latihannya secara intensif jauh hari sebelum peluit pertandingan pertama dibunyikan. "Untuk persiapan lomba, saya persiapkan dengan matang dan sungguh-sungguh selama dua bulan sebelumnya, dan saya bertanding di kelas D dewasa. Pada hari perlombaan, alhamdulillah saya menjuarai satu IKS Cup ke-X Cabang Banyuwangi", ungkap Wayan saat menceritakan proses perjuangannya.
Lebih dari sekadar adu kekuatan fisik, teknik pukulan, maupun tendangan, pencak silat pada hakikatnya adalah seni mengendalikan diri sendiri. Di balik kesuksesannya membawa pulang medali emas, Wayan mengakui bahwa pertarungan terberat justru terjadi di dalam dirinya sesaat sebelum menghadapi serangan lawan di arena. "Tantangan terberat yaitu ketika harus mengendalikan kegugupan dan ketika harus meyakini diri bahwasanya saya bisa lebih baik dari lawan saya", tutur mahasiswa tersebut. Untuk menyiasati tekanan psikologis di tengah sorak-sorai penonton, ia memiliki manajemen mental dan strategi tersendiri. "Saya meyakini bahwasanya saya sudah berlatih dengan cukup untuk lomba ini sehingga saya yakin bahwa saya bisa menghadapi semuanya", tegas Wayan untuk meyakinkan dirinya bahwa keringat latihannya tidak akan pernah mengkhianati hasil akhir.
Perjalanan gemilang Wayan menuju podium juara ini nyatanya dilalui melalui perjuangan yang sangat mandiri. Dalam kejuaraan tersebut, ia tergabung dalam tim ofisial kontingen asal Bondowoso yang diketuai oleh Mas Rey. Tim ini diperkuat oleh lima belas anggota tangguh, meliputi Dian Nofitasri, Yulio Rafli Maulana, Safina Aulia Yunis Tiara, Tutik Andriyani, Alya Salma Khalilah, Agung Gunawan, Bima Agung, Rohmah Hartika, Citra Febyatus, Dharfan Ibnu Hafidz, Fardahn Rahmatullah, Abdullah Ghaist, Putri Rohmatin, Muflisatul Hasanah, dan Wayan sendiri. Wayan membeberkan bahwa persiapan dan keberangkatannya pada ajang kali ini dilakukan secara mandiri.
Walaupun berjuang secara mandiri dari awal masa pelatihan hingga penyerahan medali, Wayan tetap menaruh kepedulian yang besar terhadap kemajuan ekosistem olahraga bela diri di lingkungan kampusnya. Ia melihat bahwa terdapat banyak sekali mahasiswa yang menyimpan potensi luar biasa di bidang pencak silat. "Namun saya berharap untuk pihak fakultas bisa memberi harapan lebih untuk para atlet pencak silat khususnya mahasiswa FKIP agar lebih semangat untuk menggapai tingkat lebih tinggi", urainya menyampaikan aspirasi positif agar institusi dapat turut andil dalam pembinaan bakat. Baginya, medali emas dari Banyuwangi ini barulah sekadar batu loncatan awal. Dengan kedisiplinan yang telah terasah, ia menetapkan pandangan menuju ajang yang lebih masif. "Harapan saya untuk bisa naik tingkatan lebih tinggi hingga bisa mencapai tingkat nasional ataupun PON Nasional", pungkas Wayan dengan penuh optimisme.
(nfl/nmm)