Siapa bilang teknologi jadi hambatan? Tim Josjis yang diketuai oleh Moh. Awaidil Fikri dan beranggotakan, Edwin, Fifi, dan Puput dari FKIP Universitas Jember ubah hambatan jadi jembatan untuk masa depan pendidikan yang gemilang. Kemajuan teknologi bukan lagi menjadi tembok pembatas di dunia pendidikan. Terungkap sebuah proses luar biasa, kisah inspiratif di balik layar kesuksesan kompetisi Lomba Inovasi Digital Mahasiswa (LIDM) Simposium Jilid III yang diselenggarakan oleh BEM FKIP GARDAKARA. Pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya Inklusif bagi siswa Tunagrahita, isu ini sangat krusial sehingga menjadi latar belakang lahirnya solusi visioner. Siswa Tunagrahita memiliki karakter yang unik, selain itu keresahan melihat metode konvensional seringkali tidak selaras di masa kini. Media pembelajaran berbasis Virtual Reality (VR) hadir sebagai pembelajaran yang inklusif.

Proses kreatif ini membutuhkan waktu riset dan penulisan yang tidaklah instan, selama kurang lebih dua minggu “Kami mencari masalah dulu, merembukkan solusi yang tepat, hingga pembagian jobdesk tim yang presisi”, ungkap ketua tim. Sempat menghadapi tantangan berupa hilangnya semangat dan kontribusi tim yang kurang suportif, tidak menjadi alasan menyerah. Sinergi dan dukungan antar anggota menjadi kunci utama.

Kekuatan utama inovasi ini adalah relevan dengan masalah yang benar-benar nyata dan solusi yang sangat mungkin direalisasikan, tidak hanya teori diatas kertas. Perjalanan ini membuahkan hasil yang manis, sebelumnya seringkali juara 2, ajang LIDM Simposium Jilid III ini sangat memorable “akhirnya pecah telor” ungkap ketua tim. Fikri selaku ketua tim selalu memegang teguh prinsip “you don’t have to be great to start, but you have to start to be great”. Kata-kata motivasi ini mengisyaratkan bahwa jangan takut untuk memulai, lebih baik gagal daripada menyesal tidak mencoba sama sekali.