JEMBER – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FKIP Universitas Jember menyelenggarakan talk show bertajuk “Moderasi Keagamaan: Agama di Tengah Polarisasi Digital dan Krisis Kemanusiaan” pada Minggu, 27 September 2026, pukul 08.00–12.20 WIB di Aula Lantai 4 CDAST Utara Universitas Jember. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh pesatnya perkembangan media digital yang tidak hanya mempermudah akses informasi, tetapi juga berpotensi memicu konflik dan polarisasi berbasis agama. Melalui kegiatan ini, BEM FKIP UNEJ berupaya meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai moderasi beragama sekaligus menumbuhkan semangat perdamaian dan solidaritas di tengah keberagaman, khususnya di lingkungan Jember.
Talk show ini menghadirkan tiga narasumber dari latar belakang agama yang berbeda, yaitu Gus Al Zainal Muhammad, Murni Hermawaty Sitanggang, S.Th., M.Th., serta Mangku Drs. I Nengah Suryarya. Kegiatan tersebut melibatkan panitia yang terdiri atas pengurus BEM dan mahasiswa FKIP di luar kepengurusan BEM, dengan sasaran peserta mahasiswa lintas fakultas serta masyarakat kampus. Rangkaian kegiatan meliputi pemaparan materi, diskusi bersama narasumber, dan focus group discussion (FGD) berbasis studi kasus yang ditanggapi oleh ketiga narasumber.
Ketua BEM FKIP UNEJ menyampaikan bahwa tema tersebut dipilih karena erat kaitannya dengan kehidupan mahasiswa yang setiap hari berinteraksi dengan media sosial dan berbagai informasi keagamaan. “Perbedaan keyakinan bukan alasan untuk saling menjauh. Justru bagaimana kemudian kita bisa tetap berdampingan, saling menghargai, dan membangun solidaritas sebagai sesama manusia,” ungkap Ketua BEM FKIP UNEJ. Melalui diskusi lintas iman ini, peserta diajak memahami pentingnya menyikapi perbedaan secara bijak serta membangun komunikasi yang terbuka dan saling menghormati.
Melalui kegiatan ini, BEM FKIP UNEJ berharap mahasiswa tidak hanya memahami moderasi beragama secara konseptual, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, terutama saat menggunakan media sosial. Mahasiswa diharapkan lebih kritis dalam menerima informasi, tidak mudah terprovokasi oleh isu yang memecah belah, serta mampu menghargai orang lain yang memiliki latar belakang dan keyakinan berbeda. Dengan demikian, perdamaian dan solidaritas lintas iman dapat terus tumbuh sebagai tanggung jawab bersama dalam kehidupan bermasyarakat.